Rabu, 28 Desember 2011

Tradition "Mappasilaga tedong" in Toraja




Salah satu kesenian khas Toraja yang cukup terkenal sampai ke mancanegara yaitu Passilaga Tedong (adu kerbau). Acara ini merupakan rangkaian adat yang wajib dilakukan saat perayaan Rambu Solo ,upacara pemakaman masyarakat Toraja yang masih mempertahankan tradisi masa lalu. Biasanya, masyarakat yang mengadakan pesta berasal dari keluarga bangsawan atau masih merupakan keturunan raja.

Setiap perayaan, ribuan warga berkumpul di lapangan menyaksikan adu kerbau yang dalam bahasa Toraja disebut dengan Ma ‘ pasa tedong. Satu persatu kerbau digiring ke tengah lapangan dan diadu. Seperti yang terjadi di Lapangan Deri, Toraja Utara, Setiap kerbau dituntun oleh pa’kambi (Pengembala), sesaat kemudian kerbau dilepas ketika saling berhadapan. Penonton pun bersorak ketika dua kerbau besar saling tanduk menanduk.

Tapi, sebelum acara adu kerbau dimulai, seluruh keluarga yang berduka melakukan ritual berjalan mengelilingi tana nampasa (tanah berkumpul) sebanyak tiga kali putaran. “ Ritual tersebut sebagai simbol aluk todolo, sebutan buat nenek moyang masyarakat Toraja,” papar Hermina Pasolang, Ketua Adat Lembang Parinding, Toraja utara.



Perayaan ini juga memiliki tingkatan. Mulai dari tingkat rendah hingga tertinggi atau kengkap. Disebut lengkap ketika semua jenis kerbau (tedong bonga) ada dalam perayaan dan jumlahnya melebihi 24 kerbau. Sebab tingkat terendah ketika jumlah kerbau mencapai 24 ekor. Ketika sudah lengkap maka perayaan disebut sapu randanan. “ Ini merupakan wujud cinta kasih pada orang tua yang sudah meninggal,” ujar Agustinus, Tokoh Adat Toraja yang penulis temui beberapa bulan lalu.

Kerbau yang diadu dalam perayaan bukan sembarangan kerbau. Namanya Tedong Bonga. Kerbau pilihan yang dipelihara khusus oleh pengembala. Spesiesnya hanya ditemukan di Toraja. Harganya pun cukup mahal hingga mencapai ratusan juta rupiah. Satu kerbau yang dipakai dalam perayaan biasa dihargai 250 juta,” ujar Agustinus, Tokoh Masyarakat Toraja Utara.

Mahalnya harga kerbau tidak menjadi persoalan bagi sang empunya pesta. Masyarakat Toraja percaya jika kerbau tersebut merupakan kerbau pilihan yang bisa dipersembahkan pada pencipta untuk memudahkan sang mayit menuju surga.

Nama setiap kerbau juga beragam, Sokko, Tekken langi, Ta’busura, Lotong Boko, Pudu, Balandati, Todi. Sehari sebelum adu kerbau, tokoh adat memberi nama dan biasanya disesuaikan dengan nama dewata.

Selain tedong bonga, ada juga kebau yang panjang tanduknya mencapai 4 meter. Namanya Tedong Balian. Harganya tak jauh beda dengan kerbau lainnya. Bisa mencapai 270 juta per ekor. Kerbau tersebut tidak di ikutkan dalam pertandingan. Melainkan dihiasi dengan kain dan siap dikurbankan untuk mengantar sang mayit ke alam baka. Setiap pengembala kerbau seperti Yohanes, pengembala kerbau yang merawat Tedong Balian dibayar Rp 800 ribu setiap bulan. Kerjanya hanya merawat dan memastikan kerbau tersebut dalam kondisi sehat.


“ Acara adat seperti adu kerbau memang harus terus di jaga kelestariannya, karena termasuk adat istiadat orang Toraja yang sudah turun temurun,” ungka Jeremy yang datang menemani keluarganya mengadu kerbau. Agustinus juga menambahkan jika dalam perayaan tersebut masyarakat tidak dipaksakan mengikuti adat. Tapi hanya bagi mereka yang mau melestarikan budaya dan memiliki cukup dana.







One typical Toraja art is very well known to foreign countries is Passilaga Tedong (buffalo race). This event is a series of custom that must be done during the celebration of Solo Signs, funeral Toraja society that still retains the traditions of the past. Usually, people who have a party coming from a noble family or descendants still the king.

Each celebration, thousands of citizens gathered on the ground watching the buffalo fights in Toraja called Ma 'pasa tedong. One by one the buffalo were herded into the middle of the field and pitted. As happened in the Field Deri, North Toraja, Every buffalo guided by pa'kambi (herdsmen), a moment later released when the buffalo facing each other. The audience also cheered when the two big buffalo horns to gore each other.

But, before the show starts buffalo fights, the whole family is grieving ritual walk around the tana nampasa (ground together) as much as three times a round. "The ritual is a symbol Aluk Todolo, designation for ancestral Toraja society," said Hermina Pasolang, Chairman of the Peoples Lembang Parinding, northern Toraja.


This celebration also have tiers. Starting from the lowest to the highest level or kengkap. Called complete when all types of buffalo (tedong Bonga) exists in the celebration and the amount exceeds 24 buffalo. For the lowest level when the number reached 24 buffalo tail. When it is complete then the celebration is called broom Randanan. "This is a manifestation of love to parents who have died," said Augustine, the author of Toraja Traditional Leaders met several months ago.
Buffaloes are pitted in a celebration not a haphazard buffalo. His name Tedong Bonga. Buffaloes options specifically maintained by the herdsmen. Species found only in Toraja. The price is quite expensive to reach hundreds of millions of dollars. The buffalo are commonly used in the celebration valued 250 million, "said Augustine, Community Leaders of North Toraja.
High prices of buffalo is not a problem for the owner of the party. Toraja people believe if the buffalo is a buffalo options that can be dedicated to the creator to facilitate the deceased to heaven.
The name of each buffalo is also diverse, Sokko, Tekken rainbow, Ta'busura, Lotong Boko, Pudu, Balandati, Todi. The day before the shoot buffalo, traditional leaders and are usually adjusted to give a name with the name of a deity.
Besides tedong Bonga, there is also kebau long horns reach 4 feet. His name Tedong Balian. The price is not much different from other buffalo. Could reach 270 million per head. Include buffalo is not in the game. But decorated with fabrics and ready sacrificed to take the deceased into the afterlife. Each buffalo herdsmen like John, buffalo herdsmen who treat Tedong Balian paid Rp 800 thousand per month. It acts just take care and ensure the water buffalo in a healthy condition.

"Events such as the traditional buffalo race must continue on guard its preservation, because it includes customs Toraja people who are hereditary," Jeremy gibbon who came to accompany his family complained buffalo. Augustine also added if the celebration is not forced to follow traditional society. But only for those who want to preserve the culture and have sufficient funds.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar