Sabtu, 10 Desember 2011

"Queen of Coffee" Cerita di Balik Hitamnya Kopi Toraja


Selain terkenal dengan wisata alam dan budayanya yang sunggu mempesona, Tana Toraja juga dikenal dengan aroma kopinya yang memikat selera. Akan terasa belum lengkap jika berkunjung ke kota Tondok Lepongan Bulan ini tanpa mencicipi atau membeli kopi Arabika asli Toraja. Lantaran aroma dan cita rasanya yang sedap, memang sangat pantas bila kopi jenis arabika ini dijuluki dengan istilah "Queen of Coffee".
Kopi Toraja juga lebih dikenal dengan aromanya yang herbal. Apalagi jika segelas kopi Toraja ditambahin sehelai daun mint,,wou.. rasanya pasti lebih berbeda. Berawal dari tangan para petani, hingga tersebar di seluruh dunia, kopi Toraja selalu meninggalkan jejak-jejak aroma kebanggan bagi negeri ini. Salah satu jenis kopi Toraja yang merupakan jenis kopi terbaik dan termahal di dunia adalah kopi luwak. Wow, tidak tanggung-tanggung, ternyata jenis kopi ini dihargai dengan kisaran harga US$50 atau sekitar Rp 500 ribu setiap cangkirnya. Jika ingin membelinya dalam bentuk kemasan, kita harus relah merego kocek sebesar US$ 600 per 4,5 Kg nya.
Yang menarik dari jenis kopi ini adalah prosesnya yang sangat unik hingga bisa tersaji dalam secangkir aroma hitam yang sungguh nikmat. Kopi luwak berawal dari biji kopi yang ditemukan pada kotoran luwak. Luwak adalah sejenis hewan tupai yang banyak hidup di pinggir hutan dekat perkebunan kopi. Oleh karena itu kopi ini diberi nama kopi Luwak. Anda tertarik dengan kopi ini..??? pasti lebih bercita rasa tinggi lagi jika dipadukan dengan sebatang rokok Djarum Black.
Kopi Toraja yang juga terkenal adalah kopi yang bermerek kawata. selain merek ini, masih ada kopi-kopi Toraja merek lainnya seperti Kopi Toraja Arabica Kalosi, Toraja Coffee Paperbag dan yang penjualan dan proses produksinya ada di belakang rumah saya di Toraja adalah kopi Toraja yang bermerek dagang Kopi Sangrapuan. Memang proses produksinya sangat sederhana, tapi rasanya...... woow,,, dari aroma asap penggorengannya saja, para pasien yang memeriksakan kesehatannya di dokter yang ada di dekat lokasi terpikat hatinya. Setiap harinya tak jarang juga para wisatawan yang menyisikan waktu untuk mampir berbelanja di tempat itu.
Namun di balik cerita hitamnya kopi Toraja, ada satu masalah yang merugikan Indonesia. Kopi Toraja sudah menjadi merek dagang di Jepang oleh Key Coffee dan Amerika oleh seorang pengusaha. Indonesia tak bisa langsung menjual Kopi Toraja ke Jepang dan AS, kecuali melalui Key Coffee atau pengusaha AS tersebut. Jika mengekspor langsung, pihak Indonesia bisa dituding melanggar merek yang telah didaftarkan di sana. Padahal kopi yang di Jepang itu aslinya kopi asal Toraja. Di Jepang, kopi jenis ini termasuk barang mewah. 40 persen kopi yang dikonsumsi di Jepang berasal dari Toraja. Buktinya pada saat Pameran Eco-Product yang dihadiri Prince dan Princess Akishino tahun 2008 kemarin, stand kopi Toraja sangat dilirik pengunjung. Terlihat antrian para pengunjung yang tak sabar mencoba dan mengulangi mencicipi nikmatnya kopi asli Indonesia ini. Selain terkenal di Jepang, kopi Toraja juga sangat dilirik pemerintah Korea.







Tongkonan



Tongkonan berasal dari kata tongkon yang berarti duduk, kemudian dibubuhi akhiran an, maka artinya menjadi tempat duduk bersama. Dahulu tongkonan adalah ini merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat dan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Tana Toraja. Tongkonan tidak bisa dimiliki oleh perseorangan, melainkan dimiliki secara turun-temurun oleh keluarga atau marga suku Tana Toraja.
Dengan sifatnya yang demikian, tongkonan mempunyai beberapa fungsi, antara lain: pusat budaya, pusat pembinaan keluarga, pembinaan peraturan keluarga dan kegotongroyongan, pusat dinamisator, motivator dan stabilisator sosial. Dengan demikian fungsi Tongkonan tidaklah sekedar sebagi tempat untuk duduk bersama, lebih luas lagi meliputi segala aspek kehidupan. Apabila mempelajari letak dan upacara-upacara yang dilaksanakan, melalui simbol-simbolnya akan diketahui bahwa Tongkonan adalah simbol sosial dan simbol alam raya. Oleh karena itu orang Toraja sangat men"sakral"kan Tongkonan. Memelihara Tongkonan, secara pribadi berarti memelihara diri, secara bersama-sama pula masyarakat berupaya melestarikannya.
Oleh karena Tongkonan mempunyai kewajiban sosial dan budaya yang juga bertingkat-tingkat dimasyarakat, maka dikenal beberapa jenis tongkonan,antara lain yaitu :
  • Tongkonan Layuk atau Tongkonan Pesio' Aluk, yaitu Tongkonan tempat menciptakan dan menyusun aturan-aturan sosial keagamaan.
  • Tongkonan Pekaindoran atau Pekamberan atau Tongkonan kaparengngesan yaitu Tongkonan yang satu ini berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat, berdasarkan aturan dari Tongkonan Pesio' Aluk.
  • Tongkonan Batu A'riri yang berfungsi sebagai tongkonan penunjang. Tongkonan ini yang mengatur dan berperan dalam membina persatuan keluarga serta membina warisan tongkonan.
Bentuk Tongkonan
Bentuk Tongkonan yaitu berlapis tiga, berbentuk segi empat yang melambangkan empat azas kehidupan manusia yang disebut Ada 'A 'pa eto 'na, terdiri dari kelahiran, kehidupan, pemujaan dan kematian. Segi tempat ini juga dianggap sebagai simbol dari empat penjuru angin. Tongkonan harus selalu menghadap arah utara yang melambangkan awal kehidupan, dengan bagian belakang rumah menghadap arah selatan yang melambangkan akhir kehidupan.
Bagian-bagian Rumah
Model Tongkonan senantiasa mengikuti model desa, secara konsepsional harus bersegi empat. Struktur ruangan mengikut struktur makro-kosmos yang terdiri dari tiga lapisan benua, yakni bagian atas (Rattiangbanua), bagian tengah (kale banua) dan bagian bawah (Sulluk banua).
Bagian atas digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka yang dianggap mempunyai nilai sakral. Atap Tongkonan terbuat dari bambu-bambu pilihan yang disusun tumpang tindih, dikait oleh beberapa reng bambu dan diikat oleh tali bambu/rotan. Fungsi dan susunan demikian untuk mencegah masuknya air hujan melalui celah-celah, dan sebagai lubang ventilasi. Susunan bambu ditaruh di atas kaso yang terdapat pada rangka atap. Susunan tarampak minimal 3 lapis, maksimal 7 lapis, setelah itu disusun hingga membentuk seperti perahu.
Bagian tengah digunakan untuk tempat tinggal dan melakukan aktivitas di dalam rumah. Bagian tengah yang merupakan badan rumah ini berlantaikan papan kayu uru yang disusun di atas pembalokan lantai, memanjang sejajar balok utama. Dindingnya disusun dengan sambungan pada sisi-sisi papan. Dinding yang berfungsi sebagai rangka dinding yang memikul beban, terbuat dari bahan kayu uru atau kayu kecapi.
Bagian tengah sebagai ruang tempat tinggal, dibagi pula atas tiga bilik yaitu bilik bagian depan disebut Tando', berfungsi sebagai tempat beristirahat, tempat tidur nenek, kakak dan anak laki-laki serta tempat mengadakan sesajen. Jendela pada ruang Tangdo berjumlah 2 buah, menghadap ke utara. Bagian tengah disebut Sali dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni bagian timur tempat kegiatan sehari-hari dan sebagai dapur, ruang menerima tamu, ruang keluarga, dan kamar mandi. Di bagian barat digunakan tempat persemayaman jenazah pada waktu diadakan upacara kematian.
Bagian belakang disebut Sumbung yang digunakan sebagai tempat pengabdian dan tempat tidur kepala keluarga bersama anak-anak, khususnya anak gadis, serta untuk menyimpan benda-benda pusaka. Lantainya ditinggikan pertanda bahwa penghuni Tongkonan mempunyai kekuasaan dan derajat yang tinggi. Sumbung ini berada di bagian selatan, maksudnya anak-anak gadis dan anak kecil memerlukan pengawasan ketat, dengan perlindungan dari anak-anak laki-laki yang bertempat di ruang Tando.
Bagian bawah yang merupakan kolong rumah merupakan tempat hewan peliharaan. Fondasinya menggunakan batuan gunung, diletakkan bebas di bawah Tongkonan, tanpa pengikat antara tanah, kolong dan fondasi itu sendiri.
Ragam Hias
Tongkonan dapat dilihat sebagai produk yang menampilkan nilai-nilai estetik, dengan bentuknya yang anggun disertai kekayaan ragam hias yang mengandung makna yang terkait dengan sistem budaya mereka. Pada mulanya, orang Toraja hanya mengenal empat macam ukiran yang disebut Garonto Passura artinya dasar ukiran, antara lain pa'barre allo yaitu ukiran yang menyerupai matahari atau bulan, benda yang mulia di atas bumi berasal dari Sang Pencipta yang memberi hidup dan kehidupan bagi umatNya: pa' tedong ukiran yang menyerupai kepala kerbau, ukiran ini sebagai lambang kerja keras dan kemakmuran, oleh karenanya diletakkan pada tiang-tiang yang berdiri tegak sebagai tulang punggung bangunan, yang berarti bekerja adalah tulang punggung kehidupan; pa' manuk londong ukiran yang menyerupai ayam jantan, sebagai lambang dari norma, aturan yang berasal dari langit yang menata kehidupan manusia. Bersama-sama Pa'barre allo diletakkan di atas bagian depan Tongkonan, dan pa' sussuk yaitu ukiran yang menyerupai garis-garis lurus, sebagai lambang kebersamaan dan kesatuan dalam lingkup kerabat yang tergabung dalam kelompok Tongkonan. Ukiran ini diletakkan pada dinding bagian atas yang menghiasi ruangan. Dari keempat dasar ukiran tersebut dikembangkan terus, hingga sekarang sudah dikenal lebih dari 150 macam ukiran.
Selain motif-motif utama tersebut, ada pula motif lain yang juga memiliki makna. Motif pa'daun balu adalah daun sirih yang merupakan lambang penghormatan kepada dewa-dewa. Motif pa' bua tina adalah lambang pohon waru yang merupakan hiasan dinding rumah sebagai lambang persatuan dalam keluarga. Pa'sala'bi' dibungai berarti 'pagar' yang biasanya terdapat pada dinding dan pagar rumah bangsawan. Motif ini mengandung arti sebagai penangkal masuknya orang jahat dan mencegah penyakit sampar. Motif Pa' bunga menyerupai bunga yang melambangkan pentingnya pengetahuan bagi manusia. Pa' kangkung adalah ukiran yang menyerupai pucuk kangkung menghiasi rumah bangsawan, motif yang mengandung harapan agar senantiasa memperoleh rejeki sebagaimana kangkung yang selalu tumbuh subur di tempat berair. Pa' erong berarti peti mayat yang hanya digunakan untuk peti mayat keluarga bangsawan, yang menaruh harapan agar yang meninggal senantiasa memberi berkah kepada keluarga yang ditinggalkan. Pa 'bunga kaliki simbol bunga pepaya yang bermakna agar nasehat yang menyakitkan pun dapat membawa kebaikan dalam hidup. Pa' sisik bale lambang sisik ikan agar cita-cita yang tinggi dapat tercapai. Pa'kollong buku melambangkan leher merpati yang bermakna agar manusia dapat hidup bebas menentukan pilihannya. Motif Koyo adalah burung bangau lambang manusia yang penyabar. Pa'dara dena berarti dada burung pipit lambang keteguhan hati dan pendirian yang tetap.Tongkonan adalah rumah adat adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai Perahu, terdiri atas susunan bambu (sampai saat ini sebagian tongkonan meggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Bahkan tongkonan digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan Mayat. Tongkona berasal dari kata tongkon(artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (stara sosial Masyarakat Toraja).Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (bangah) saat ini sebagian sudah di cor, Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu Lembangna) yang dikenal dengan istilah Ma'duangtondok terdapat tongkonan yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan)dan Tongkonan A'pa'(empat rumah tongkonan)yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar.

Tongkonan karua terdiri dari:
1. Tongkonan Pangrapa'(Kabarasan)
2. Tongkonan Sangtanete Jioan
3. Tongkonan Nosu (To intoi
masakka'na)
4. Tongkonan Sissarean
5. Tongkonan Tomentaun
6. Tongkonan Tomanta'da
7. Tongkonan To'lo'le Jaoan
8. Tongkonan Tomassere'
Tongkonan A'pa' terdiri dari:
1. Tongkonan Peanna Sangka'
2. Tongkonan To'induk
3. Tongkonan Karorrong
4. Tongkonan Tondok Bangla' (Pemanukan)
Banyak rumah adat yang konon di katakan tongkonan di Sillanan, tetapi menurut masyarakat setempat, bahwa yang dikatakan tongkonan hanya 12 seperti tercata di atas. Rumah adat yang lain disebut banua pa'rapuan. Yang dikatakan tongkonan di Sillanan adalah rumah adat dimana turunannya memegang peranan dalam masyarakat adat setempat. Keturunan dari tongkonan menggambarkan strata sosial masyarakat di Sillanan. Contoh Tongkonan Pangrapa' (Kabarasan)/ pemegang keuasaan pemerintahan. Bila ada orang yang meninggal dan dipotongkan 2 ekor kerbau, satu kepala kerbau dibawa ke Tongkonan Pangrapa' untuk dibagi-bagi turunannya.
Stara sosial di masayarakat Sillanan di bagi atas 3 tingkatan yaitu:
1. Ma'dika (darah biru/keturunan bangsawan); 2. To Makaka (orang merdeka/bebas); 3. Kaunan (budak), budak masih dibagi lagi dalam 3 tingkatan.
Sejarah Kabarasan:
Pada awalnya Kabarasan dipegang oleh Tintribuntu yang berkedudukan di Buntu Lalanan (rumah adat Buntu sebelah barat). Kemudian Anaknya Tintribuntu yaitu Tome kawin dengan anak dari Tongkonan Sangtanete Jioan (Tongkonan Sangtanete sebelah timur). Sampai dipertahankan oleh Pong Paara' di Sangtanete Jioan. Setelah Pong Paara' meninggal (tidak ada anaknya), akhirnya muncul pemberani dari Doa' (Rumah adat Doa') yaitu So'Padidi (alias Pong Arruan). Kabarasan dipindahkann ke Doa'. Kekuasaan lemah di Doa' setelah So' Padidi meninggal, karena semua anknya adalah perempuan 3 orang, sehingga muncul tipu muslihat yang mengatakan bahwa bisa di potongkan kerbau 3 ekor saja. Karena minimal kerbau dikorbankan adalah 4, maka Doa' dianggap tidak mampu memegang kekuasaan. Akhirnya dibawa Boroalla ke Tonngkonan Pangrapa', sampai saat ini.
Mengenal lebih dekat Rumah Adat Tana Toraja yakni Tongkonan. Tana Toraja merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Sulawesi Selatan. Untuk menuju Tana Toraja dari Jakarta, anda dapat menggunakan pesawat terbang menuju Makassar terlebih dahulu, lebih kurang 2 jam penerbangan. Sesampainya di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, anda dapat melanjutkan perjalanan menuju Tana Toraja. Jika anda mengunakan pesawat udara dari Makassar menuju Bandara Pongtiku di Toraja, anda hanya membutuhkan waktu 40 menit penerbangan. Namun, penerbangan menuju Toraja biasanya hanya dijadwalkan 2 kali dalam seminggu. Jika anda menggunakan jalur darat, anda dapat menggunakan bus umum dari kota Makassar menuju Makale, pusat kota Tana Toraja. Perjalanan dari kota Makassar menuju Makale ini membutuhkan waktu lebih kurang 8 jam perjalanan melintasi jalan berbukit. Tongkonan merupakan sebutan bagi rumah adat Tana Toraja.
Nah, untuk melihat Tongkonan atau rumah adat Toraja, anda dapat menuju dusun Kadundung, desa Nonongan, kecamatan Sanggalangi, kabupaten Tana Toraja menggunakan angkutan umum ataupun kendaraan pribadi. Jarak menuju desa Nonongan dari pusat kota Makale sekitar 14 kilometer. Namun untuk lebih mempermudah perjalanan menuju desa Nonongan, anda dapat menggunakan jasa dari biro perjalanan yang tersedia di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Konon, kata Tongkonan berasal dari bahasa Toraja, Tongkon yang berarti duduk. Rumah adat di Toraja disebut Tongkon, karena pada awalnya rumah ini merupakan pusat pemerintahan dan kekuasaan adat. Tongkonan bukanlah rumah pribadi perseorangan melainkan diwariskan secara turun temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja. Di rumah adat inilah, keluarga Toraja biasanya berkumpul untuk berdiskusi ataupun bertukar pendapat. Namun seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat Toraja kini juga membuat beberapa Tongkonan yang khusus diperuntukkan bagi obyek wisata.
Ketika anda berada di Tana Toraja, tidak semua Tongkonan dapat anda kunjungi. Anda hanya boleh berkunjung ke Tongkonan yang secara khusus dijadikan obyek wisata. Sementara Tongkonan milik keluarga Tana Toraja hanya boleh dikunjungi oleh anggota keluarga Toraja yang memiliki Tongkonan itu. Untuk memperoleh informasi lebih lengkap tentang Tongkonan mana yang dapat dikunjungi oleh wisatawan, anda dapat bertanya kepada tetua adat atau penduduk ketika berada di Tana Toraja. Apapun fungsi Tongkonan itu, bentuk Tongkonan di Tana Toraja tetaplah sama. Arsitektur bangunan rumah terbuat dari kayu pohon. Tongkonan memiliki atap yang terbuat dari daun nipa atau kelapa. Jika dilihat dari bagian samping rumah, bentuk atap Tongkonan seperti kepala dan sepasang tanduk kerbau. Di kehidupan masyarakat Toraja, kerbau dijadikan simbol status sosial. Ketika keluarga Toraja menyelenggarakan upacara adat khususnya ritual pemakaman, mereka tak pernah lupa untuk menyembelih kerbau. Jumlah kerbau yang disembelih itu tergantung dari kemampuan ekonomi keluarga yang menyelanggarakan acara adat. Setelah disembelih, tanduk kerbau itu dipasang di dalam Tongkonan milik keluarga Toraja. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau dalam sebuah Tongkonan, semakin tinggi pula status sosial pemilik Tongkonan itu di kalangan masyarakat Toraja. Jika memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam Tongkonan, anda dapat melihat beberapa ornamen ukiran khas Toraja yang terbuat dari tanah liat. Untuk ornament di dalam Tongkonan, masyarakat Toraja biasanya menggunakan empat warna dasar yakni hitam, merah, kuning, serta putih.
Bagi suku Toraja, keempat warna itu memiliki warna tersendiri. Di Toraja, warna hitam melambangkan kematian, kuning menjadi simbol anugerah dan kekuasaan Illahi, putih lambang warna daging dan tulang yang berarti suci, sementara merah menjadi simbol warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Sama halnya dengan jumlah tanduk kerbau, ornament di dalam Tongkonan juga melambangkan kemewahan. Semakin banyak anda menjumpai ornament ukiran di dalam sebuah Tongkonan, Tongkonan itu dinilai semakin memiliki kemewahan tersendiri di kalangan masyarakat Toraja.

Kisah Cinta Sehidup Semati Di Toraja

Lebonna dikenal sebagai gadis paling cantik di desanya. Bahkan, mungkin di daerah Lepongan Bulan alias Toraja. Dia memiliki kulit putih. Juga rambut, indah, panjang, hitam dan hidung yang menonjol. Wajahnya seperti boneka dan badannya kurus. Hampir sempurna sebagai seorang wanita secara fisik. Nah, dalam perjalanan hidupnya, ia menjadi kejang laki-laki. Namun, Lebonna akhirnya jatuh cinta dengan Paerengan Massudilalong, seorang pria yang juga dikenal sebagai seorang pria tampan pemberani dan kuat. Dalam hubungan cinta mereka, mereka bertunangan dengan memiliki janji, bahwa mereka telah bersama-sama dalam kehidupan dan kematian. Tidak hanya itu, ketika mereka meninggal nanti, mereka harus dikuburkan dalam sebuah makam yang sama.
Seiring waktu, hubungan mereka lebih intim. Banyak orang iri pada Paerengan karena Dia telah Lebonna. Di sisi lain, banyak wanita yang cemburu pada Lebonna, karena ia telah Paerengan, pemuda, satu tampan dan berani.
Namun, nasib akan. Tiba-tiba berita itu datang dan berkata bahwa desa mereka ingin melakukan invasi dengan desa lainnya. Paerengan (julukan Massudilalong’s) yang dikenal sebagai prajurit, diminta untuk memimpin pasukan. Mereka pergi berperang, dan di Toraja yang disebut “mangrari”. Sementara Lebonna tinggal di rumahnya untuk menunggu, ia menenun kain untuk menghilangkan kebosanan menunggu kekasihnya.
Selama pertempuran, salah satu orang Paerengan diam-diam melarikan diri dari medan perang. Dia kembali ke desa. tujuan-Nya untuk memenangkan hati Lebonna’s. Dia mengarang cerita bahwa Paerengan terbaring mati di medan perang. Ia berbagi berita Lebonna berbohong dengan berpura-pura sedih. Lebonna terkejut dan tidak menerima kematian kekasihnya. Dia bahkan menutup diri beberapa hari dan tidak mau makan. Dia menangis sepanjang hari.
Kabar dari orang Paerengan yang melarikan diri dari medan perang, juga tidak berhasil. Alasannya adalah Lebonna tidak terpengaruh bahkan sedikit. Cintanya hanya untuk Paerengan. Siang dan malam, ia teringat janji tentang kesepakatan dengan Paerengan. Singkatnya, Lebonna pilih cara pintas. Dia tidak ingin mengkhianati cinta Paerengan. Akhirnya, ia lakukan janjinya kepada kekasihnya, bersama-sama dalam hidup dan mati. Jalan ini, ia gantung diri dengan menggunakan tali. Lebonna berpikir tidak ada gunanya hidup. Itu karena dia pikir Paerengan telah tewas di medan perang. Sementara mereka telah terlibat untuk selamanya.
Setelah meninggal karena gantung diri dan membuktikan cintanya setia, Lebonna mayat itu dikuburkan dalam sebuah gua batu, tepatnya di Desa Salu Barana, desa Bua Kayu.
Setelah upacara pemakaman Lebonna itu, muncul keajaiban. Masyarakat di Tana Toraja percaya, ketika tubuh dimasukkan ke dalam gua batu Lebonna, tiba-tiba gua itu ditutup. Namun, rambut panjang Lebonna masih tergantung di luar mulut gua. Pada waktu itu, Lebonna tidak sepenuhnya ingin masuk kubur tanpa Paerengan, kekasih yang telah mengikat janji bersama-sama ke dalam hidup dan mati. Lebonna rambut hitam dan berkilau menghilang setelah danau bawah makamnya kering.
Lalu, bagaimana dengan Paerengan? Orang yang berani pulang dari pertempuran dengan kabar baik, kemenangan. Ketika ia tiba, ia pergi ke rumah Lebonna, kekasihnya yang didambakan. Yang membuat Paerengan kesal. Lebonna, gadis yang ia cintai telah pergi untuk selamanya. Setelah mendengar cerita tentang Lebonna menggantung diri dan membunuh, hidup Paerengan semakin tidak menentu. Dia dikenal sebagai seorang pejuang sejati dan sangat dihormati, tapi sekarang hidup dalam kondisi tertutup.
Setiap hari ia tampak sedih. Dia juga memilih untuk hidup sendiri. Kekuatan cinta bisa mengubah segalanya. Cinta juga bisa membuat segalanya mungkin untuk semua orang. Di sisi lain, tanggung jawabnya sebagai komandan perang, tidak mudah hanya ditinggalkan. Dia harus menjadi pemimpin tentara.
Dilema. Mungkin itu ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Paerengan setelah meninggalkan pacarnya, Lebonna. Dia harus memilih, menepati janjinya bersama-sama dalam hidup dan mati dengan Lebonna atau masih hidup untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan musuh. Paerengan adalah dilema
Hari-hari berlalu. Kebetulan, Paerengan memiliki pembantu yang sangat dekat dengannya. Pembantu yang juga menjadi tangan kanannya. Dia bernama Dodeng. Beberapa orang dari Tana Toraja menyukai ballo atau anggur (jus dari pohon kelapa). Sementara itu, Dodeng juga memiliki pohon kelapa di sekitar kuburan Lebonna’s.
Suatu hari, Dodeng sudah terlambat untuk mengambil anggur. Secara tradisional, anggur diambil pada pagi atau sore hari. Tapi kemudian, Dodeng datang setelah matahari terbenam. Saat mengambil sebuah arak, Dodeng tiba-tiba mendengar suara yang akrab. Suara itu akrab sebelumnya, ketika Lebonna masih hidup. Dodeng bisa mendengar jeritan. Suara memohon tujuan pesan ke Paerengan Massudilalong, orang yang telah berjanji wth Lebonna bersama dalam hidup dan mati. Bahkan, kuburan Lebonna juga di tempat yang sama dengan tanah Dodeng’s.
Pesan sekarang dikenal sebagai judul lagu Batingna Lebonna, pesan (lyric) adalah:
Dodeng ma’rambi ma’dedek, Dodeng ma’patuang tuak
pededekmu rampanampi, anna pi pepamaru’mu
perangina’mati Ammu, Ammu tanding talinga’na
parampoanpa ‘kadangku, masemaseku pepasan
Lako untuk Massudilalong, Sangkalamma’ku muane …
Mukua duka lasangmateki, e.. Jadi ‘e …
Paerengan, oh rendengku ..
Dolo Angku Angku mate .. Angku ma’pa Riu Rokko
Tae ‘siala na mate, la sisarakna sunga’na, bo’bona kandean Lebon
Rimbakanpo te bolo’na
Ulli Ulli ‘sola duka, borro sito’doan duka, untuk’ Riu ponno lalanna,
lendu tarru ” pasuleanna
Ini berarti: Dodeng yang ingin mengambil anggur,
menghentikan aktivitas Anda, silakan
Jika Anda mendengarkan aku di sana, mendengarkan dengan hati-hati
Kirim pesan saya, saya merasa buruk
untuk Massudilalong kekasihku
Kau bilang bersama-sama dalam kehidupan dan kematian
Paerengan, oh saya mencintai
Jika aku mati sebelum Anda,
Kami tidak meninggal pada saat yang sama, mengapa Anda masih hidup
Tapi, itu semua hanya kebohongan, perjalanan hubungan kami sangat panjang
Ini jauh mengambil langkah …
Dodeng tidak mampu melakukan apa-apa. Dia terpaku. Ketika ia menyadari bahwa, dia tiba-tiba melarikan diri. Dia tidak punya waktu untuk mengambil again.After anggur ia tiba di rumah Paerengan, ia memiliki keringat dingin. Bahkan, ia jatuh sakit. Bagaimana Paerengan setelah mendengar pesan Lebonna dari Dodeng?
Lebonna pesan untuk Paerengan Massudilalong tidak segera disampaikan. Dodeng masih tidak percaya apa yang didengarnya sebelumnya. Dia khawatir, suara hanya bayangkan. Memang, karena insiden itu, Dodeng jatuh sakit. Ketika sehat, Dodeng mencoba lagi untuk mengambil ballo ‘atau anggur (minuman ringan yang berasal dari pohon kelapa). Pada saat itu, ia satu kegiatan sebelum matahari terbenam. Ini berarti bahwa Dodeng datang lebih awal.
Tidak seperti pertama kali ia mendengarkan pesan dari Lebonna. Pada saat itu, ia datang setelah matahari terbenam. Namun, Dodeng kejutan karena dia mendengar lagi suara. Meskipun, pada saat itu, tidak terlalu terlambat. Mendengar suara sedih lagi, Dodeng tiba-tiba melarikan diri. Dia kembali ke rumahnya tanpa anggur. Dodeng sikap itu berubah setelah insiden itu, dan itu dibuat Paerengan penasaran. Dia kemudian meminta Dodeng untuk berbicara tentang apa yang terjadi.
Karena setiap hari, suara yang selalu didengar oleh Dodeng, sampai akhirnya ia tidak tahan dan Dodeng memberikan pesan ke Paerengan. Tidak yakin tentang pesan, Paerengan ingin membuktikannya. Keesokan harinya, tepat saat matahari terbenam, Paerengan bergabung Dodeng ke pohon kelapa, tidak jauh dari makam Lebonna. Ketika Dodeng sampai pohon kelapa, suara itu terdengar lagi. Paerengan bersembunyi dengan tenang, mendengarkan suara. Setelah mendengar pesan tersebut secara langsung, Paerengan pulang. Tiba di rumahnya, ia menutup pintu kamar itu. Dia trauma karena janji setia bahwa ia setuju dengan Lebonna, gadis yang dicintainya begitu banyak.
Tidak menunggu, Paerengan meminta agar semua prajurit berkumpul. Para prajurit diperintahkan untuk membawa tombak. Paerengan alasan yang digunakan pada waktu itu, dan cukup mengatakan kepada masyarakat untuk menghindari kecurigaan. Terutama dengan penutup partai: “merok”, yang merupakan pihak yang membunuh kerbau dengan tombak. Salah satu tradisi Toraja’s. Keesokan harinya, semua prajurit berkumpul di lapangan terbuka. keluarga Semua Paerengan itu juga hadir. Pada saat itu, kerbau sudah disiapkan. Para prajurit juga mengambil tombak mereka. Juga dengan alasan “merok”, Paerengan kemudian meminta agar semua pasukan mengemudi tombak dengan mata tombak posisi menghadap langit. Paerengan juga melakukan hal yang sama.
Ketika semua prajurit dan warga berkumpul, diam-diam Paerengan sampai ke atap paviliun yang sudah ada sebelumnya. Publik mengira ia ingin membuat pidato. Tapi, ternyata, dia hanya melompat tepat di atas ratusan tombak yang telah mempelopori terjebak.
Paerengan tewas di ujung tombak tragis. Dia janjinya. Pihak merok ‘adalah berubah menjadi pesta pemakaman. Setelah Paerengan bunuh diri untuk membuktikan janjinya, keajaiban masih terjadi. Sebagai Paerengan mayat dikuburkan di tempat lain, mayat tiba-tiba muncul di rumahnya. Itu terjadi tiga kali.
Akhirnya, Dodeng kepada publik apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mayat Paerengan dimasukkan dalam kubur Lebonna itu, semangat mereka berdua akhirnya bisa tenang.

Kamis, 08 Desember 2011

Tongkonon Berusia 700 Tahun


Tongkonan atap batu ini terletak di Desa Banga', Kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja. Dari Kota Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja, kita harus menempuh perjalanan 10 kilometer ke arah barat. Tapi, tidak perlu khawatir. Jalan menuju Desa Banga' cukup mulus.
Sekilas, tongkonan yang disakralkan warga itu tampak biasa-biasa saja. Ukurannya 3 x 10 meter, tidak terlalu luas untuk sebuah tongkonan. Namun, ada beberapa hal pada bangunan yang diyakini berusia 700 tahun itu yang tidak akan ditemukan pada tongkonan lain. Karena keunikannya, Pemkab Tana Toraja melalui pemerintah pusat mengusulkan tongkonan tersebut masuk daftar warisan budaya dunia UNESCO.
Seperti sebutannya, salah satu keunikannya terletak pada atap yang terbuat dari batu pahatan berbentuk segi empat. Tebal tiap batu atap itu 5 sentimeter dengan lebar tiga jengkal orang dewasa.
Di ujung batu atap tersebut ada dua lubang kecil di sisi kiri dan kanan. Fungsinya, untuk mengikatkan tali rotan yang dilengketkan ke balok kerangka atap. Puncak atap, tempat pertemuan atap sisi kiri dan kanan, ditutup pecahan bambu agar air hujan tidak merembes ke dalam tongkonan. Jumlah batu yang digunakan sebagai atap tongkonan itu lebih dari seribu. Berat tiap batu atap itu rata-rata 10 kilogram. Berarti, beban atap tongkonan tersebut sekitar 10 ton.
Atap dan badan tongkonan itu ditopang 55 tiang yang seluruhnya terbuat dari kayu. Lantai tongkonan terbuat dari papan dan dindingnya berupa kayu berukir. Pada tiang depan tongkonan tampak berjajar ratusan tanduk kerbau yang dipotong tiap penghuni tongkonan itu menyelenggarakan pesta adat. Pintu masuknya hanya satu, terletak di bagian tengah sisi kanan bangunan. Untuk masuk ke tongkonan itu, kita harus melewati tangga yang juga terbuat dari kayu.
Tertarik melihat bagian dalam tongkonan? Bisa. Cukup mengetuk pintu tiga kali, siapa saja boleh masuk. Ah, biasa. Di mana-mana, yang namanya tamu memang mesti mengetuk pintu dulu, kan? Tunggu dulu. Sebab, justru itulah salah satu keunikan tongkonan tua tersebut. Kita tidak boleh mengetuk pintu dengan tangan. Harus pakai kepala. "Kalau tidak mengikuti aturan itu, pengunjung biasanya mengalami kecelakaan saat pulang. Bahkan, ada pengunjung yang jatuh sakit karena masuk rumah tanpa permisi," tutur Dorkas, pemilik tongkonan kuno tersebut.
Saat ini tongkonan itu dihuni Ne' Toyang, janda berusia 110 tahun. Ne' Toyang menghuni tongkonan itu bersama putri ketiganya, Dorkas. "Bapak saya bernama Sara', sudah meninggal. Sekarang tinggal Ibu (Ne' Toyang) dan cucu-cucu. Jumlahnya 140 orang," tutur Dorkas.
Menurut dia, Nenek Toyang yang kini menghuni tongkonan itu adalah turunan kesepuluh dari penghuni pertama. Menurut cerita turun-temurun, yang pertama membuat dan menghuni tongkonan itu adalah nenek Buntu Batu. "Ibu saya yang sekarang menghuni tongkonan ini sudah turunan kesepuluh. Usia ibu saya 110 tahun. Turunan kedua hingga kesembilan kami lupa namanya. Ibu saya hanya bilang bahwa tongkonan ini berusia 700 tahun lebih," papar Dorkas.
Saat akan masuk ke tongkonan itu, penulis juga diharuskan mengetuk pintu dengan kepala. "Tidak usah keras-keras, nanti sakit. Yang penting ada suaranya," kata Dorkas. Di dalam tongkonan itu ada kamar persis di sebelah kanan pintu. Di kamar itu Dorkas meminta izin, entah kepada siapa, agar direstui meninjau situasi dalam tongkonan. Rupanya, keluarga pemilik tongkonan tersebut yakin bahwa tongkonan itu masih dihuni leluhur meski tidak menampakkan diri. "Kalau ada tamu yang langsung naik tanpa permisi, biasa sakit saat pulang," katanya. Tongkonan itu punya empat kamar dan satu ruang tamu. Namun, di kamar-kamar tersebut tidak ada kasur atau ranjang. Bagaimana dengan atapnya? Dorkas yang kelahiran 1948 itu menyatakan, sejak dibangun sekitar 700 tahun silam, tongkonan tersebut baru dua kali ganti atap. Pergantian pertama hanya di beberapa titik. Saat itu ada tali rotan pengikat atap yang terputus. "Pergantian kedua dilakukan saat Tana Toraja dilanda gempa bumi. Tapi, saya lupa tahun berapa kejadiannya. Menurut kakek, sebagian besar atap jatuh karena gempa tersebut," katanya.

filosofi tongkonan



Tongkonan di Tanah Toraja mempunyai fungsi sosial, budaya, dan adat yang berbeda-beda. Salah satu fungsinya yaitu sebagai tempat untuk menyimpan jenazah. Suasana masih pagi. Ketika kabut perlahan menghilang di sebuah bukit kecil samar-samar mulai nampak atap dari bangunan kecil. Ujung atapnya tampak seperti tanduk kerbau namun tak seruncing aslinya. Atap tersebut bukan lagi terbuat dari alang-alang seperti bangunan aslinya tetapi sudah tergantikan dengan seng. Bangunan dengan atap meruncing itu bernama Baruang Tongkonan atau biasa disebut Tongkonan, rumah adat orang Toraja.
"Tongkon artinya duduk. Kata 'an' bisa dikatakan tempat," kata Andre, salah seorang warga Desa Tondon, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tongkonan adalah tempat orang di desa untuk berkumpul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah-masalah adat. Tangannya lalu menunjuk ke arah Pegunungan Latimojong, "Nenek moyang Orang Toraja dari sana, dan gunung. Dulu, Puang Matua menurunkan tetaa-tetaa Toraja." Puang Matua artinya Sang Pencipta, atau Maha Esa menurut orang Toraja yang menciptakan isi bumi seluruh isinya. Menghadap Ke Utara Hampir semua rumah orang Toraja menghadap ke arah utara. Hal ini merujuk Puang Matua berada di kepada dunia yaitu arah utara. Menghadap ke arah Puang Matua berarti menghormati clan dipercaya selalu akan mendapat berkah. Ketika penghuni menginjakkan kakinya di luar rumah, maka seluruh hidupnya akan diserahkan kepada Puang Matua.
Tongkonan sendiri bentuknya adalah rumah panggung yang dibangun dari kombinasi batang kayu dan lembaran papan. Kalau diamati, denahnya berbentuk persegi panjang mengikuti bentuk praktis dari material kayu. Tidak ada pelitur atau pernis, semuanya berasal dari kayu uru, sejenis kayu lokal yang berasal dari Sulawesi. Kualltas kayunya cukup baik dan banyak dijumpal dijumpal di daerah Toraja.
Ada tiga bagian dari Tongkonan; kolong (Sulluk Banua), bagan (Kale Banua) dan atap (Ratiang Banua). Dilihat dari tampak samping, pembagian ini nampak jelas darn pola struktur kayunya. Pada kolong nampak ruang kosong dan tertutup pada bagian dindingnya yang sambungannya dari papan dengan ketebalan sekitar 5-7 cm. Pada bagian atap, bentuknya melengkung mirip tanduk kerbau. Di sisi barat dan timur bangunan terdapat jendela kecil, tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin. Tongkonan mempunyai masing-masing kolom yang berkumpu pada batu. Kolom utamanya menjadi penyangga struktur atap di sisi ujungnya.
Tidak ada ketentuan khusus ukuran struktur kayu Tongkonan, semua berdasarkan ketersediaan bahan baku kayu uru di pasaran. Pada Kale Banua yang berfungsi sebagai tempat tinggal, lantainya terdiri dari lembaran papan yang diperkuat dengan struktur lantai panggung. Pada bagian ini mempunyai beberapa fungsi lain seperti ruang istirahat tamu sekaligus ruang upacara syukuran yang berada di di sisi depan dan sebagai ruang keluarga yang sekaligus digunakan sebagai ruang menempatkan jenazah pada saat upacara pemakaman. Pada sisi belakang bangunan terdapat ruang tidur bagi anggota keluarga.
Membutuhkan Dana Besar
Menurut Andre, membagi struktur Tongkonan itu mudah (maksudnya: merencanakan kolom). Prosesnya tinggal memasang ujungnya. Beri satu kolom di tengahnya lalu dibagi. Pembangunan satu Tongkonan bisa menghabiskan dana sekitar Rp 2-3 milyar. "Kalau material alangnya saja murah, sekitar Rp 50-60 juta," katanya lagi, sambil menunjuk sebuah rumah panggung yang mirip Tongkonan namun lebih kecil. Fungsi bangunan itu untuk menyimpan hasil panen padi dari sawah keluarga.
Bangsawan Toraja yang memiliki Tongkonan umumnya berbeda dengan Tongkonan dari orang biasanya. Perbedaannya ada di bagian dinding, jendela, dan kolom. Permukaan kayu ketiga elemen tersebut diukir halus dan detail. Motifnya ada yang bergambar ayam, babi, dan kerbau. Selain itu diselang-seling dengan sulur-sulur mirip batang tanaman. Pada kolom utamanya juga berfungsi sebagai tempat menggantungkan tengkorak kerbau, sebagai tanda keberhasilari mengadakan upacara. Bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan temak mereka juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu, penyembelihan kerbau selalu menjadi acara yang ditunggu dalam sebuah pesta.
Pemakaman Sebagai Hajatan Besar
Hari itu, sekitar akhir bulan Desember 2008, di sebuah Tongkonan di Desa Tondon, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan tampak lalu lalang orang sibuk membawa bahan makanan, alat pertanian, alat memasak, kain, kerbau, babi, bambu, dan kayu. Di depan Tongkonan itu terdapat jalanan yang merupakan jalan penghubung antara kota Rantempao dengan kota Palopo, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Temyata hari itu terdapat upacara pemakaman atau mereka sering menyebut "seorng ada pesta". Seluruh warga desa terlibat dalam upacara ini termasuk seluruh keturunan yang dipestakan dari segenap penjuru. Mereka berkumpul bersama wisatawan yang ingin menyaksikan riuhnya acara tersebut. Sudah setahun jenazah Belu Salurante, seorang bangsawan Toraja, menjadi penghuni Banua Barung-barung (bagian dari rumah orang Toraja). Tepat setahun setelah meninggal, seluruh keluarga besar dari Salurante akan memestakan moyangnya ini dengan melaksanakan prosesi pesta pemakaman atau Rambu Solok.
Menurut orang Toraja, orang yang sudah meninggal dianggap masih sakit. Oleh karena itu jenazahnya disimpan di dalam ruang tengah rumah mereka. Jenazah itu masih dianggap sebagai bagian kelaurga yang masih hidup. Ketika saat makan pun, ada bagian tersendiri untuk yang sudah meninggal ini. Sebelum prosesi Rambu Solok dimulai, satu kerbau dipotong di halaman rumah terlebih dahulu. Jumlah dan kerumitan ukiran di permukaan kayo di Tongkonan melambangkan status pemiliknya. Bangsawan Toraja memiliki Tongkonan dengan pahatan bermotif seperti kerbau. Sedangkan kaum biasa Tongkonannya tidak berukir sebagai tanda penghormatan.
Peti jenazah Belu Salurante yang berukir sulur-sulur dan tutupnya dicat emas ini diikat erat oleh tali yang ditumpukan pada bambu bersilangan. Bambu ini berfungsi untuk membawa peti jenazah. Ada dua perempuan duduk dibambu tersebut dan memakai baju hitam. Badannya bergoyang ke kanan kiri ketika para lelaki warga Desa Tondon dan anggota keluarga Salurante beramai-ramai bergantian menggotongnya.
"Heyaaa heee, heyaaaa heee,' teriak para lelaki menyemangati din mereka sendiri. Jarak yang dilalui iring-iringan ini sekitar 5 km, memutar dari rumah Belu Salurante ke Tongkonan yang lain. Di belakang para lelaki, mengikuti orang tua dan ibu-ibu yang membawa kain panjang berwarna merah. Di sisi kanan kiri jalan, warga Desa Tondon menyambut clan memberikan penghormatan terakhir bagi bangsawan.
Peti jenazah tersebut lalu disimpan di dalam Tongkonan sebelum dimasukan ke dalam Lung-Bang (makam) keluarga di tebing timur desa. Dalam proses pemindahan peti ke makam tebing akan diadakan kembali pests penyembelihan kerbau.
Itulah ragam fungsi yang diemban oleh Tongkonan. Selain sebagai tempat berkumpul juga sebagai tempat penyimpanan sementara jenazah sebelum dibawa ke makam nun jauh di tebing sana.

"toraja" taman surgawi

Toraja, sebuah kata yang indah dan sangat bersahabat di telinga siapapun yang mendengarnya. Seperti saat mendengar orang menyebut Bali. Dua daerah yang dari segi budaya dan adat istiadatnya hampir memiliki kesamaan. Demikian juga keindahan alamnya. Bedanya bahwa Bali lebih mengandalkan keindahan panorama laut sementara Toraja menawarkan keindahan panorama alamnya. Bali disebut-sebut 'pulau dewata', Toraja disebut sebagai 'tondok madeata' (paling tidak untuk saya sendiri, ckckckck…). Bali mengenal dewa-dewa, Toraja mengenal juga deata (dewa-dewa). Bali dan Toraja menjadi taman firdausnya Indonesia di mana wisatawan mancanegara dan domestik serasa dihipnotis untuk datang, melihat, dan merasakan indahnya negeri kayangan di bumi Indonesia.

Tetapi kini "Pulau dewata – Bali", semakin menunjukkan kepantasannya menyandang 'pujian' tersebut, dan Toraja sedang menuju alam baka dan perlahan ditinggalkan para wisatawan mancanegara dan domestik. Barangkali tepatlah kata anak-anak muda sekarang, "E,… malemo sau'". Kalau saya terjemahkan lurus-lurus ungkapan tersebut kira-kira sama dengan 'sudah sedang menuju ke alam baka'.
Kalau anda datang ke 'Pulau dewata – Bali', anda akan menjumpai patung para dewa dalam kemegahannya yang gagah, serasa sedang menghadirkan yang ilahi di tengah-tengah pulau dewata. Bahkan tidak tanggung-tanggung hotel-hotel berbintang dirancang sedemikian rupa untuk sungguh menghadirkan 'negeri para dewa' bagi anda, lengkap dengan bunyi gong berpadu dengan kesatuan alam yang tertata indah dan bersih. Bunga-bunga dan sesaji dipersembahkan oleh masyarakat bali untuk dewa-dewa mereka setiap hari serasa tidak pusing dengan modernitas yang sedang membanjiri negeri para dewa tersebut.
Tetapi 'negeri deata-negeri to madeata' Toraja telah dan sedang mengubur budaya dan tradisi leluhurnya. Bayangan "negeri kayangan" masih akan terasa saat sedang dalam perjalanan dari Endrekan ke arah Toraja, dengan pemandangan indah yang sungguh-sungguh mempesona. Panorama indah gunung nona di daerah Bamba Puang (Pintu Gerbang bertemu Tuhan atau tuan) seolah-olah sedang seperti sebuah pemanasan untuk masuk ke negeri kayangan yang sesungguhnya. Gunung nona yang sedang telanjang itu serasa sedang berkisah bahwa sesuatu yang lebih indah berada di balik sana, di negeri kayangan, Toraja. Ia seakan-akan berbicara dan mengundang siapa saja yang berhenti mengambil gambar untuk terus dan terus lagi bahwa sesuatu yang lebih indah akan anda jumpai di sana. Pemandangan indah itu seakan mengingatkan saja bahwa anda baru berada di gerbannya (Bamba).
Saat anda meneruskan perjalanan dengan harapa akan berjumpa dengan pemandangan yang lebih indah dari apa yang ada di gerbang (bamba), anda masih akan disambut dengan sebuah gerbang indah bertuliskan Selamat Datang di Toraja. Anda sekarang berada di daerah Salubarani, perbatasan Endrekang dengan Toraja, negeri kayangan yang sedang ada dalam bayangan anda. Di gerbang tersebut anda akan melihat sebuah rumah tongkonan di apit dengan empat patung sebuah keluarga yang sedang melambaikan tangan kepada anda dengan sejuta keramahan, persis di atas jalan raya yang anda lewati.
Rasa penasaran dalam diri anda semakin menggebu-gebu ingin segera melihat negeri kayangan itu, maka anda akan terpancing untuk menambah laju kendaraan kendati jalan dari Salubarani ke arah kota Makale berlekuk-lekuk, dengan tikungan yang tajam, tetapi jalan tersebut serasa tidak akan menghalangi anda untuk menekan gas kendaraan.

Anda pasti akan semakin penasaran karena bayangan negeri kayangan itu tidak nampak-nampak. Pemangdangan sekitar Mebali – Mengkendek tidak terlalu indah, rumah-rumah adat di jalan-jalan hampir tidak akan anda jumpai. Anda akan sedikit terhibur saat anda tiba di kilometer sembilan dari kota Makale, saat anda menyaksikan pemandangan indah daerah Randanan-Pangngulu-Marinding dengan gunung Kandora yang tampak indah menjulang tinggi bagai tangga ke surge (eran di langi').
Anda akan sedikit yakin dan tersadar bahwa sekarang anda sekarang sedang masuk ke daerah kayangan yang ada dalam bayangan anda.
Bila anda terus melaju, anda akan segera tiba di kota kecil Makale. Di kota kecil tersebut, anda akan disambut dengan pemandangan yang sedikit mengecewakan. Jalan-jalan masuk kota Makale sedikit macet dan tampak kumuh. Kendaraan-kendaraan diparkir seenaknya di kiri-kanan jalan. Setelah anda bersabar sedikit untuk lolos masuk ke pintu yang sempit kota Makale, anda akan disambut dengan patung raksasa Lakipadada yang tampak sedikit seram dan sangar. Sangat berbeda dengan patung para dewa di pulau dewata-Bali. Anda sekarang berada di "negeri deata – to madeata" Toraja. Patung raksasa Lakipadada di tengah kolam kota Makale sedang menyambut anda dengan wajah yang kaku dan keras; otot-ototnya yang kekar dan wajahnya tampak sangar dengan mulut yang sedikit terbuka seolah-olah ia sedang berteriak sambil memegang obor raksasa dengan pedang pusaka di pinggangnya. Sungguh menakutkan buat anda. Tetapi jangan anda terkejut. Konon patung itu adalah patung seorang Toraja yang tidak ingin mati kemudian mencari seorang mahaguru yang bisa mengajarinya ilmu tidak mati (hidup abadi) tetapi kemudian gagal mendapatkannya. Anda jangan terkejut melihat patung raksasa yang tampak tidak bersahabat tersebut. Barangkali ia sedang berteriak jengkel dan marah karena pulang tanpa hasil. Atau barangkali ia sedang menyambut anda dengan mimik jengkel layaknya seorang pembesar yang sedang marah dengan rakyatnya. Atau boleh jadi ia sedang menyambut anda dengan rasa malu ala pembesar karena anda akan pulang dengan kisah sedih dari negeri kayangan Toraja. Entahlah, silahkan lanjutkan perjalanan anda di negeri ini.
Kalau anda seorang pendatang baru dalam rangka melancong ke negeri kayangan Toraja, anda pasti lebih memilih untu terus berjalan ke utara, ke kota Rantepao di mana hotel-hotel bertebaran tak terhitung jumlahnya layaknya di pulau dewata Bali.
Tidak ada pemandangan indah antara Makale dan Rantepao. Tetapi saat anda meninggalkan kota Makale rasa penat yang sempat menerkam anda akan sedikit setelah menyaksikan alam negeri ini yang luas membentang kiri dan kanan jalan. Perjalanan anda akan sedikit terganggu dengan kondisi jalan poros Makale dengan Rantepao yang sedikit tidak terurus. Tetapi berjalan dan berjalanlah terus ke arah utara.
Mendekati kota Rantepao, lagi-lagi anda jangat terkejut karena anda tidak akan disambut dengan patung para dewa, atau to madeata, tetapi justur akan disambut dengan sebuah patung cantik kerbau belang yang sedang dipegang oleh seorang manusia pendek kecil (ne' pento') dan tampak seperti sedang berteriak kegirangan.
Lagi-lagi anda jangan terkejut melihat patung kerbau belang (saleko) tersebut. Anda memang sedang mengarah ke pasar hewan Pasar Bolu, di mana semua jenis kerbau, kecuali kerbau putih polos (tedong bulan) ditawarkan kepada siapa saja yang ingin membelinya. Atau jangan sampai anda sedang berpikir kalau anda akan sedang menuju kebun binatang. Tidak, anda sekarang sungguh-sungguh ada di negeri kayangan Toraja. Silahkan melanjutkan perjalanan anda.
Tinggal beberapa kilo saja anda akan berada di pusat kota Rantepao. Tetapi sekali lagi anda jangan terkejut menyaksikan kondisi kota yang kumuh dan tidak beraturan, sangat jauh dari apa yang anda lihat di Bali. Sekarang anda sedang berada di Toraja dan bukan Bali. Jangan anda bermimpi melihat kota Rantepao seperti Denpasar di Bali. Den duka pasa' (ada juga pasar) di Rantepao tetapi bukan seperti di Bali, tetapi pasa' tedong (pasar hewan kerbau) di Bolu. Hahaha, mari kita tertawa sejenak, karena anda pasti sudah lelah dan barangkali sedikit kecewa datang ke negeri kayangan Toraja.
Perjalanan anda belum berakhir. Toraja yang anda bayangkan tidak seluas Makale atau Rantepao saja. Silahkan anda ke hotel dan mintalah keterangan di sana tentang maksud kedatangan anda di negeri kayangan Toraja. Ada banyak hotel di kota Rantepao dan sekitarnya. Anda tinggal memilih sesuai dengan selera dan ketebalan dompet saja.
Kalau anda seorang tourist lokal dan tidak ingin ditemani oleh pemandu wisata hotel, anda bisa menyewa mobil sendiri lengkap dengan sopirnya, atau menyewa ojek juga lengkap dengan tukang ojeknya, atau hanya menyewa motor ojek saja. Kalau yang terakhir ini yang anda pilih, barangkali hati-hati saja. Boleh jadi anda mahir menggunakan kendaraan di jalan mulus tetapi tidak di jalan berbatu-batu. Karena hampir semua tempat wisata di daerah ini berada di daerah yang terpencil dengan kondisi jalan yang cukup parah. Belum lagi pengendara-pengendara roda dua dan roda empat termasuk roda enam dan juga roda tiga tidak terlalu disiplin dalam berlalu lintas.
Kalau anda ingin menyaksikan pemandangan alam yang indah, silahkan berjalan ke arah utara lewat kampung bernama Baranak – Tallunglipu dan terus ke Batutumonga. Saat kedatangan anda tepat waktu musim padi menguning, cost yang anda keluarkan boleh jadi cukup impas dengan apa yang anda lihat dan alami di negeri kayangan ini. Apalagi kalau anda cukup beruntung dan bisa mendapatkan pesta adat rambu tuka' dan rambu solo' yang kadang menelan biaya ratusan bahkan miliaran rupiah itu. Tetapi anda lagi-lagi jangan pulang dengan kesimpulan seperti itu. Sebagian terbesar juga pesta rambu tuka' dan rambu solo' yang dibuat dengan sangat sederhana.
Kalau anda ingin menikmati pemandangan indah dari atas puncak Batutumonga, jangan lupa membawa jaket karena udara di atas puncak itu cukup dingin untuk mereka yang datang dari kota. Jalan ke tempat tersebut cukup rusak parah. Tetapi dalam perjalanan tersebut mudah-mudahan anda bermenung sambil berkontemplasi karena anda akan segera menyaksikan pemandangan alam yang amat indah. Perjalanan yang melelahkan dengan kondisi jalan yang rusak akan memberi kenangan tersendiri bagi anda bahwa jalan menuju puncak selalu berbatu-batu dan tidak enak, tetapi setelah berada di atas anda akan segera lupa jalan berbatu-batu itu, karena anda sedang menyaksikan karya tangan Allah yang luar biasa. Di dekat Batutumoga indah itu ditawarkan sebuah tempat dimana anda akan bertanya dan bertanya terus tentang manusia Toraja. Lo'ko' Mata, sebuah batu besar yang dipahat untuk kemudian dijadikan makam atau kuburan. Lagi-lagi anda jangan terkejut saat mendengar bahwa untuk membuat lubang pada batu besar itu dibutuhkan waktu berbulan-bulan, tentunya dengan biaya yang mahal. Karena itu anda jangan membayangkan bahwa mereka yang dikuburkan di situ adalah orang sembarangan. Tetapi anda tidak perlu mencari di mana kuburan orang kecil, karena pasti tidak menjadi tempat tujuan wisata. Kecuali kalau turisnya adalah turis yang aneh.
Pemandangan indah yang lain ada di sebelah timur kota Rantepao. Nama tempatnya sudah sangat tidak asing lagi di telinga para pecandu kopi arabika Toraja asli, Bokin-Kare-Pantilang. Tetapi anda tidak perlu ke tempat ini karena tempat ini hanya dijangkau dengan kendaraan roda enam pada musim hujan. Itupun anda harus rela berdiri di atas trek, di antara barang-barang yang lain. Bersyukurlah kalau saat itu anda tidak sedang sial dan harus naik di atas trek yang sedang mengangkut babi atau barang-barang jualan para pedagang kampung. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Rantepao, tetapi waktu yang akan anda habiskan dalam perjalanan ke tempat ini hampir dua kali lipat dari waktu anda ke Batutumonga indah. Kalaupun anda punya planing ke tempat tersebut, barangkali ditunda saja sampai mendapatkan informasi bahwa jalan-jalan sudah bagus, karena konon katanya pemerinta akan mengusahakan perbaikan jalan ke sana. Daerah ini menyimpan harta karun yang terlupakan tetapi lagi-lagi anda akan pulang dengan badan yang ngilu karena peralanan yang melelahkan. Di tempat tersebut selain dengan pemandangan alamnya yang indah, rumah-rumah adat 'tongkona' dibangun dimana-mana, tetapi juga karena di tempat tersebut terdapat beberapa peristiwa tak terselami oleh pikiran manusia. Ada mummi, jenazah manusia yang tidak termakan zaman seperti jenazah santa Bernadeth di Eropa sana. Ada juga daging hewan dengan nasi yang membatu dan konon setiap waktu bertambah besar. Tetapi lagi-lagi anda tidak perlu ke tempat itu, kecuali kalau anda seorang petualang sejati dan penikmat benda-benda antik. Kecuali itu, kalau anda seorang penikmat sejarah di tempat inilah dibangun pertama kalinya rumah batu bagaikan istana raja oleh Belanda. "Istana kecil" yang dibuat oleh Parengnge' Rante (satu-satunya parengnge' perempuan yang dipercaya Belanda kala itu), saudara dari Puang Rante Kata (seorang parengnge' terkenal pada zamannya) sudah tidak terurus lagi. Tempatnya sangat terpencil dan jalan ke tempat itu sangat sulit. Anda jangan bertanya mengapa Belanda kala itu meminta Toparengge' di tempat tersebut membangun 'istana kecil' di tengah hutan. Tidak jauh dari tempat tersebut ada sebuah batu raksasa di pinggir kolam yang menurut cerita rakyat menjadi tempat masuknya seorang anak remaja yang dikejar oleh ibunya akibat kesalahan fatal yang telah dibuatnya. Batu itu sebesar rumah Toraja. Kalaupun anda nekat datang ke tempat tersebut, mohon anda menjaga sopan santun dalam hal berbicara. Anda jangan coba-coba takabur saat berada dekat kolam di dekat batu raksasa itu. Di daerah yang indah dengan harta karun yang terlupakan itu juga anda bisa mampir menikmati panorama wiata pertanian (agro wisata). Anda bisa mampir ke tempat pengolahan kopi Toraja arabika asli yang diolah secara tradisional; mulai dari penanaman (tanpa pupuk kimia), pemetikan, pengolahan di ruang penggorengan sampai pengepakan semuanya serba tradisional. Segelas kopi Toraja arabika tumbuk dari lereng pedamaran Bokin ini akan membuat anda mampu memahami mengapa pada abad-abad yang lalu terjadi apa yang dicatata dalam sejarah Toraja dengan catatan 'perang kopi di Toraja'. Anda tidak perlu mencari tahu mengapa perang itu terjadi karena akan terjawab sendiri saat anda menikmati kopi Toraja arabika asli dari daerah tersebut.
Perjalanan anda di negeri kayangan belum berakhir. Anda barangkali sudah lelah berjalan menyusuri jalan-jalan yang rusak dan berbatu-batu, lagi-lagi tidak seperti jalan-jalan di pulau dewata – Bali, dan aku sendiri rupanya sudah muali lelah juga menemani perjalanan anda. Tetapi aku harus menemani anda sampai meniggalkan negeri kayangan Toraja ini.
Kalau anda seorang pencinta benda-benda bersejarah dan tidak menyempatkan diri mengunjungi daerah Bokin-Karre-Pantilang yang menyimpan harta karun terlupakan itu, anda bisa berjalan-jalan ke daerah Ke'te' Kesu'. Tempat seperti ini biasanya menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh para wisatawan mancanegara ataupun domestic. Karena itu jangan anda melewatkannya dalam catatan perjalanan anda di negeri kayangan Toraja ini. Anda jangan menghabiskan waktu mengagumi rumah-rumah Toraja dan lumbung-lumbung padi yang telah berusia sekitar seratusan tahun itu, karena anda bisa menjumpainya dalam perjalanan anda di kampung-kampung yang lain di negeri kayangan. Anda cukup mengagumi arsitekturnya saja karena rumah-rumah itu dibuat tanpa menggunakan satu biji paku atau baut. Kayu-kayu itu disambung dengan cara kait-mengait satu dengan yang lain. Atapnya rumah itu yang ditumbuhi dengan bunga-bunga dan angrek hutan sengaja dibiarkan tumbuh di atas. Anda jangan heran mengapa sang pemiliknya tidak mencabut rumput di atas atap rumah tersebut demi menambah keangkeran tongkonan tersebut. Di tempat itu, berjalanlah ke belakang untuk melihat bagaimana manusia Toraja pada zaman dahulu menyimpan dan menguburkan jenazah. Selain memahat batu seperti yang anda lihat di Lo'ko' Mata atau di tempat-tempat yang lain, manusia dari negeri kayangan ini juga menyimpan jenazah dalam peti kayu ulin yang tahan hujan dan panas terik alias tidak termakan zaman kemudian menggantungnya di tebing batu. Anda jangan terkejut kalau mendapat informasi dari orang-orang di sekitar tempat itu dan mengatakan kalau usia peti jenazah kayu yang digantung itu (erong) sudah berusia ratusan tahun. Anda harus percaya dan tidak perlu meragukannya. Anda juga tidak perlu bertanya mengapa kuburan gantung itu hanya beberapa saja. Karena mereka yang dikuburkan dalam peti kayu itu hanyalah orang-orang tertentu saja, yang dipesta dengan pesta paling meriah dalam beberapa hari bahkan minggu.
Anda baru mengunjungi beberapa sudut negeri kayangan ini. Di pelosok-pelosok desa masih ada puluhan tempat yang tidak mungkin anda kunjungi dalam kunjungan anda ke negeri kayangan Toraja ini. Tetapi baik kalau anda mengarahkan kemudi ke arah selatan dari Ke'te' Kesu' menuju daerah kelahiran Lakipadada yakni Sangalla'. Saat masuk dalam daerah ini, anda harus menjaga diri dengan baik dalah hal tutur kata dan bahasa karena anda sedang memasuki daera "Tallu lembangna" (tiga daerah kapuangan: negeri yang dipimpin seorang puang atau raja yakni Makale, Sangalla', dan Mengkendek). Saat anda masuk ke daerah tersebut, anda tidak perlu takut. Keamanan terjamin karena semua orang di daerah ini baik dan hormat pada tamu-tamu yang datang ke daerah mereka. Mereka punya prinsip, "Anda sopan kami pun segan, anda kurang ajar kami akan ajar".
Anda jangan terkejut saat masuk gerbang negeri ini dan mendengar kakek-kakek tua atau anak-anak kecil menyapa anda dalam bahasa Ingris atau Jerman. Mereka sudah terbiasa berjumpa dengan orang-orang asing yang datang ke tempat itu. Tapi sebelum masuk kota Sangalla', negeri kelahiran Puang Lakipadada yang diabadikan dengan patungnya raksasa Lakipadada di tengah kota Makale, sebaiknya anda menyempatkan jalan-jalan ke kambung sebelum negeri kelahiran Lakipadada. Sebuah kampung yang didaulat oleh dinas pariwisata Tana Toraja sebagai perkampungan wisata. Entah apa alasannya. Di kampung itu anda akan menyaksikan rumah-rumah adat Toraja yang menjamur dibangun di mana-mana. Barangkali karena itu dinas pariwisata mendaulatnya menjadi perkampungan wisata. Tetapi anda tidak perlu terlalu terpesona dengan bangunan-bangunan tua yang ada di tempat itu dan anda jangan menghabiskan waktu terlalu banyak untuk pemandangan indah dalam perjalanan sepanjang perkampungan wisata itu. Lebih baik anda mengarahkan langka anda ke sebuah tempat yang sangat bersejarah dalam sejarah Toraja. Di tempat itulah seorang genius dari daerah itu berhasil mengumpulkan semua orang-orang berpengaruh di setiap kampung di negeri ini untuk berkumpul dan mengadakan rapat raksasa sekaligus menyusun strategi perang untuk musuh yang mencoba memasuki negeri kayangan Toraja. Dari tempat itu jugalah diproklamirkan, atau setidak-tidaknya ditegaskan kembali oleh topadatindo (orang yang mimpinya sama pada malam yang sama, atau lebih tepat dikatakan orang-orang yang memiliki harapan atau dream yang sama untuk negeri kayangan Toraja ini) apa yang konon katanya pernah dicanangkan dan diimpikan oleh Puang Tamborolangi', yakni "Tondok Lepongan Bulan – Tana Matari'allo", yang diikat dalam semboyan perjuangan mereka "Misa' kada dipotuo – pantan kada dipomate". Tetapi anda harus rela jalan kaki sekitar satu setengah jam untuk sampai ke tempat bersejarah itu. Mohon anda tidak bertanya mengapa negeri lepongan bulan tana matari'allo sekarang telah terbagi dua? Katanya demi praktisnya pelayanan kepada rakyat di negeri kayangan Toraja ini. Tempat dimana para bijak dan para penguasa dari berbagai daerah di negeri ini berkumpul di Sarira adalah To' Sendana atau To' Pasa'. Disebut "To' Sendana" karena sewaktu terjadi perang melawan musuh semua rancangan dan strategi perang diatur dan disusun di tempat tersebut, termasuk hasil kombongan dengan semboyan di atas diproklamasikan atau ditegaskan sebagai sebuah komitmen bersama seluruh Toraja. Tidaka ada yang keberatan pada waktu itu maka ditanamlah sendana sebagai tanda kesepakatan bersama yang kemudian diikuti dengan namanya basse (kesepakatan bersama yang diikat dalam persembahan darah; tidak boleh ada yang melanggarnya).
Topadatindo ini kemudian pulang ke daerah masing-masing di seluruh negeri kayangan Toraja dan memberitahukan kepada warga apa yang mereka bicarakan dan putuskan bersama, termasuk memberitahukan warga rahasia taktik perang dari To' Sendana – Sarira. Dari tempat itu jugalah dipandu seluruh perintah terjun perang kepada semua warga di negeri kayagan Toraja saat sang pemimpin perang merasa sudah saatnya untuk perang. Tandanya hanya sebuah obor raksasa dinyalakan di tempat tersebut. Karena tempat itu berada di atas gunung Sarira yang tinggi maka saat obor raksasa sebagai tanda kode terjun ke medan perang dilihat oleh semua warga, maka tanpa menunggu perintah lain mereka langsung terjun dan menghabisi musu yang terlena karena tidak menyangka bahwa musuhnya datang bagaikan semut mengepung mereka tanpa melihat ada perintah dari siapapun. Sayang bahwa tempat itu sekarang terbengkalai dan tidak terurus.
Setelah sukses dalam perang, rasa syukur dinyatakan dan diungkapkan dengan mengambil persembahan menurut kebiasaan mereka pada zaman itu dan dari Sarira bertolak ke Pata'padang (pusar bumi) Manggape-Randanbatu. Anda tidak perlu bertanya mengapa tempat itu (Pata'padang) dianggap sebagai tempat syukuran besar-besaran dan mengapa dianggap sebagai pusatnya bumi.
Harap anda masih punya cukup energy untuk berjalan mengelilingi negeri kayangan Toraja ini. Sekarang anda berjalanlah ke arah selatan menuju negeri kelahiran Puang Lakipadada, seorang bangasawan yang tidak ingin mati itu. Anda belum tiba di daerah kelahiran Lakipadada. Daerah To' Sendana – Sarira tidak masuk dalam daerah kekuasaan Puang Sangalla' dari Tallu Lembangna. Anda terus ke selatan dan akan bertemu dengan daerah Sangalla', Suaya dan Kaera. Tetapi sebagian dari wisatawan lebih suka mengunjungi kuburan gantung di Suaya seperti yang ada di Ke'te' Kesu', dengan erong yang sudah berumur ratusan tahun tetapi sepertinya baru dibuat beberapa tahun lalu. Atau mengunjungi daerah Kambira', tempat yang sangat khas sebagai tempat menguburkan bayi-bayi dalam pohon yang masih hidup dan bertumbuh. Tidak semua daerah di negeri kayangan ini membuat kuburan bayi dalam pohon seperti di daerah Sangalla' dan sekitarnya. Di dalam pohon besar yang sedang bertumbuh layaknya pohon-pohon besar lainnya ditanam jenazah bayi-bayi tak berdosa saat meninggal dunia. Kalau anda bertanya, maka jawaban masyarakat di sekitar tempat itu hanya satu, mereka tetap hidup kendati sudah mati karenanya pohon hidup itu diminta untuk membiarkannya tetap hidup.
"Toraja, negeri yang indah", demikian kesan tamu-tamuku itu saat pamitan denganku. Sebuah kesan yang mengundang permenungan yang mendalam buatku. Sungguhkan Toraja ini sebagai sebuah negeri yang inda? Dan dimakah keindahanmu?
Toraja dengan kekayaan budaya dan keindahan alamnya yang sempat menghipnotis dunia tidak boleh tinggal kenangan di masa depan tetapi sungguh-sungguh menjadi negeri kayangan di jaman modern. Semuanya belum terlambat. Sisa-sisa keindahan dan kekayaan negeri ini masih sayup-sayup kelihatan. Inner beautynya masih tampak keluar kendati tidak seperti dulu saat inner beatynya menyatu dengan alam yang indah dan budayanya yang amat kaya. Sebagian besar tempat-tempat wisata masih bisa dibenahi. Keindahan kota yang menampilkan watak manusia ambradul masih bisa dipoles, alam yang mulai dirusak toh juga belum terlambat untuk dihentikan, dan seni budaya yang hampir hilang masih bisa dipupuk kembali. Semuanya hanya membutuhkan komitmen bersama, "Mari bermimpi bersama menghadirkan kembali negeri kayangan yang telah, sedang, dan akan berjalan ke alam baka".
Mimpi bersama semua masyarakat negeri ini di manapun berada untuk bekerja sama dengan pemerinta, bergandengan tangan bersama membangun negeri impian, Taman surgawi Toraja. Caranya tidak sulit dan sangat sederhana yakni membangun sebuah image sedang hidup di negeri kayangan layaknya orang-orang Bali membangun negeri para dewa di pulau dewata.
Setiap elemen daerah ini bertanggungjawab dalam tugas dan kapasitanya masing-masing. Pemerintah betanggunjawab dalam hal infrastruktur yang sekarang sangat memprihatinkan, keindahan kota yang sekarang sangat hancur, dan keamanan masyarakat dan semua wisatawan yang datang ke negeri ini. Sementara seluruh masyarakat bertanggung jawab mempercantik serta menciptakan suasana surgawi dalam kampung dan daerah masing-masing; keindahan rumah tongkonan, keramahan masyarakat kepada semua saja yang datang, dan kewajiban memelihara keindahan alam dan tempat-tempat wisata yang ada. Dan secara bersama-sama menggali dan menumbuhkan kembali seni budaya yang pernah ada di negeri Taman surgawi-negeri kayangan Toraja ini. Karena hanya dengan itu, kita boleh berkata kepada semua saja yang datang ke negeri ini, "Selamat datang di negeri kayangan – Taman surgawi Toraja. Semoga Anda pulang lebih bahagia daripada saat Anda datang ke negeri ini".